Peran BBPP Kupang Mendukung Swasembada Daging Berkelanjutan

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat tertinggi di dunia, cukup wajar apabila ketahanan pangan selalu menjadi fokus perhatian kebijakan pemerintah. Salah satu bahan pangan pokok strategis yang menjadi fokus pengembangan pemerintah melalui kementerian pertanian adalah produksi daging. Target swasembada daging ini akan tercapai dengan cara melakukan berbagai usaha untuk peningkatan populasi sapi. Upaya tersebut dapat meliputi peningkatan produktivitas ternak sapi lokal, pengembangan pakan ternak, penyediaan bibit berkualitas, peningkatan kesehatan hewan,  serta pasca panen dan pemasaran.

Dalam mendukung tercapainya swasembada daging, Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang sebagai unit pelaksana teknis dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian memfasilitasi pelatihan teknis peternakan sesuai dengan tugas pokok balai yaitu melaksanakan pelatihan fungsional bagi aparatur, pelatihan teknis dan profesi, mengembangkan model dan teknik pelatihan fungsional dan teknis di bidang peternakan bagi aparatur dan non aparatur pertanian. Secara khusus, program pelatihan yang dilaksanakan dalam mendukung tercapainya swasembada daging adalah diklat tematik mendukung peningkatan produksi daging di 9 (sembilan) provinsi (Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara), dengan fokus pada pembibitan sapi potong, penggemukan sapi potong, serta manajemen dan pengolahan pakan.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh BBPP Kupang berusaha menyediakan sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan yang tepat guna, serta memiliki kemandirian. Hal ini diharapkan dapat berdampak pada meningkatnya produksi daging sehingga nantinya swasembada dapat tercapai.

BBPP Kupang juga melaksanakan pembinaan dan monitoring kepada para alumni pelatihan secara berkesinambungan, sehingga dalam mengaplikasikan teknis peternakan yang diperoleh dari pelatihan dapat terus terkawal dan termonitor. Hal tersebut dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan diklat yang sudah diselenggarakan. Dengan pelaksanaan monitoring juga dapat diperoleh data dan informasi sebagai bahan koreksi untuk menunjang keberhasilan program diklat sehingga tercapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.


(Catharina Ika Wahyuni, S.Pt, M.Ec.Dev)